0812-701-5790 (Telkomsel) Marine Surveyor PT.Binaga Ocean Surveyor (BOS)

0812-701-5790 (Telkomsel) Marine Surveyor PT.Binaga Ocean Surveyor (BOS)
MARINE SURVEY

Wednesday, October 26, 2011

[KMI_Batam] Renungan Mantan CEO PLN

 


Numpang share ya....
 
Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang
"baru" enam bulan. Ada yang bilang "sudah" enam bulan.

Betapa relatifnya waktu...

Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari
saya tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang
ruang kerja Dirut PLN.
Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit
lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai
bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu.
Mungkin saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang
sekarang saya pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah
kata dokter.

Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat.
Saya memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan
dengan obat transplan yang masih harus saya minum setiap hari.

Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting
yang telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh
sendiri...

Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya
memang sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama
sebagai Dirut PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik.

Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara
apa pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap
bulan saya bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN
ini, saya tidak ke mana-mana.

Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan
pengurus berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan
tersebut, saya tidak bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan
teman-teman dekat, dan bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri.
Apalagi rapat-rapat organisasi atau permintaan ceramah. Semua saya
hindari.

Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat
kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan
olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak
ada rapat yang bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya
saya kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat
ke mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik.

Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan
saya terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya
sehat, status saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus
terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak
bulan keenam, saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.

Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki
dari rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor
Pusat PLN di Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi
itu bukan supaya dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap
knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga sambil menghirup CO2.

Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas
jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan
merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi
jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat
yang bercucuran.

Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih
punya utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu
terasa berat. Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi,
kian lama menjadi kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa
sedikit kurang jauh.

Betapa relatifnya jarak...

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa
pada pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu.
Demikian juga beberapa relasi PLN lainnya.

Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya
juga tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah
menangis di lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu
untuk pulang karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu
tanpa tahu harus bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat
pelitnya.

Betapa relatifnya uang...

Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan
sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan
cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk
dipecahkan.

Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih.
Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat
hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari
para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan
jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas
personal PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua
persoalan yang dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara
menyelesaikannya. Yang tidak ada pada mereka adalah muara.

Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara.
Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan
kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara.
Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh...

Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN
itu siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus
tegang di ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat,
baku ide, berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang
rapat PLN bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator
yang menyenangkan.

Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.

Betapa relatifnya tempat...

Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan.
Pemilik jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan
masing-masing. Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis
atau tertawa. Semua bisa.

Betapa relatifnya jiwa...

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di
"kursi" direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan
tahun, sejak sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya
hampir tidak pernah membaca surat masuk.

Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung
didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun
surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya.
Maka, untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju
kepada yang lebih pas menjawabnya?

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima
surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk
kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar
disposisi. Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat?
Instruksi? Larangan? Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat
basa-basi - sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal
yang sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan
seolah-olah hanya saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus
memberikan instruksi seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu
apa yang harus diperbuat? Mengapa saya harus memberikan petunjuk
seolah-olah saya itu "pabrik petunjuk"?

Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada
tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus
membaca surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun,
mereka tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10
dari universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN
itu, doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang?
Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman - melebihi saya?
Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering
diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi
instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan
akan jadi ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak
hanya bisa "minta petunjuk".

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari
universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya:
kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut
diberikan kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi
kepercayaan, rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang
tidak seperti itu, hanyalah pengecualian.
Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur
utama. Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya,
untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya
lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja
sebenarnya.

Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin
karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan
seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun
belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa
duduk semestinya.

Betapa relatifnya sebuah kekuasaan...

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?
Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di
seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama,
mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh,
Cianjur Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan
selamat tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di
Aceh hanya 14, sehingga sering redup dan merusak barang-barang
elektronik. Kini, di Aceh dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya
sudah normal, sudah bisa 20).

Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat.
Bahkan, ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI,
bahwa direksi PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL.
Tudingan tersebut tentu lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu
hanya pemerintah bersama DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama
sekali tidak punya wewenang menaikkan atau menurunkan TDL?

Betapa relatifnya kepuasan...

(Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN.
Inilah cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung
dengan seluruh karyawannya. Surat itu diberi nama CEO's Note. Tujuannya,
seluruh karyawan PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung
membaca jalan pikiran dan keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap
kali CEO's Note terbit, banyak tanggapan dari karyawan melalui forum
e-mail perusahaan. Artikel ini adalah CEO's Note edisi ke-6 bulan Juli
2010).

Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile,
jadi teladan bagi bawahan dan demokratis ???

Didik I. Kuntadi BlackBerry(r)
Powered by Telkomsel BlackBerry(r)



__._,_.___
Recent Activity:
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment

LinkWithin2

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
Jika anda merasa info ini berguna dan ingin mentraktir saya beli minuman, silahkan anda bisa mendonasikan sedikit rezeki anda dengan mengklik link dibawah ini:


Bisnis Tiket Pesawat Online

Disclaimer