Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Theme From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, August 25, 2011

[Oil&Gas] [news] [EBT] PLTN Makin Ramah Lingkungan?

 


KBR68H – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia masih kontroversi. Salah satu sebabnya adalah kekhawatiran akan ancaman limbahnya. Limbah yang dikhawatirkan bisa membunuh manusia sama halnya ketika bocor reaktor nuklir bocor. Namun tahukah Anda ternyata PLTN lebih ramah lingkungan ketimbang pembangkit listrik berbahan bakar fosil?. Teknologi PLTN pun makin canggih untuk mengantisipasi kebocoran. Sistem keamanannya berlapis.
Kepala Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN Raden Heru Umbara mengatakan PLTN menggunakan uranium sebagai bahan bakarnya. Uranium tidak mengeluarkan emisi karbon. Berbeda dengan pembangkit listrik lainnya. Misalnya pembakit listrik tenaga uap yang pembakarannya menggunakan batubara. "Pembakaran menghasilkan gas karbon yang dilepas ke udara," ujar Heru. Proses inilah yang turut menyumbang efek gas rumah kaca. Meskipun dalam pelaksanaannya ada teknologi yang dapat merendahkan jumlah emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Tapi itu tak bisa sampai ke level yang sangat kecil. Sedangkan teknologi nuklir sama sekali tidak mengeluarkan emisi. "Zero release carbon," katanya. Ini karena proses pembakaran nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir menggunakan reaksi fisi (pembelahan). Sedangkan radiasi yang ditimbulkan tak akan mengganggu lingkungan atau manusia. Bila masih dalam batas kewajaran. Pengolahan limbah PLTN menggunakan teknologi canggih yang mengutamakan keselamatan. "Dikembangkan generasi 4," cerita M. Dhandhang Purwadi  dari  Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir BATAN.
Limbah radioaktif yang hasilkan PLTN berbagai macam. Mulai dari cair, semi cair, padat dan berupa gas. Dari tiap kategori limbah tersebut penanganannya berbeda. "Kita ada unit khusus," ungkap Heru. Badan Tenaga Nuklir Nasional memiliki unit yang khusus mengolah limbah radioaktif. Namanya, Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR). PTLR diresmikan pada 1989 dan merupakan unit organisasi di bawah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang bertugas melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi pengelolaan limbah radioaktif dalam upaya mendukung pengembangan industri nuklir dan aplikasi IPTEK nuklir di berbagai bidang pembangunan.
PTLR juga merupakan pelaksana pengelolaan limbah radioaktif dari seluruh wilayah Indonesia. Terletak di kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang, Propinsi Banten. Lebih dari 22 tahun hadir PLTR sudah mengolah limbah dari 3 reaktor nuklir yang ada di Indonesia. Reaktor tersebut tersebar di Serpong-Tangerang, Yogyakarta, dan Bandung.
Reaktor milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) itu digunakan bagi kepentingan riset. Menurut Heru limbah radioaktif terbanyak dihasilkan dari industri dan laboratorium rumah sakit. Pengolahan limbah itu juga dilakukan di PLTR. "Pengolahanya sangat bagus dan sudah sesuai dengan peraturan," tambah Heru.
Potensi Pembangunan PLTN
Saat ini pasokan energi Indonesia masih didominasi oleh energi fosil, hal ini ditandai masih banyak sektor yang bergantung pada bahan bakar fosil termasuk BBM. Ketersedian bahan bakar itu lamban laun bakal menipis. Bila tak disokong dengan penggunaaan energi baru terbarukan. Jika syarat pengembangan sumber energi di masa depan haruslah ramah lingkungan, maka defisit energi tersebut harus dibangkitkan dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Yang termasuk EBT diantaranya adalah energi matahari, angin, panas bumi, air, biodiesel dan tenaga nuklir. "Semua energi terbarukan yang ada harus diberdayakan," ujar M. Dhandhang Purwadi  dari  Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir BATAN.
Pemerintah Indonesia pun mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Pada peraturan tersebut Energi Baru Terbarukan (EBT) diproyeksikan berkontribusi sebesar 17% dari kebutuhan energi nasional pada tahun 2025. Nah energi nuklir menjadi salah satu jenis energi baru terbarukan yang layak dibangun di Indonesia. Hal ini lantaran selain lebih ekonomis dan efisien penggunaan energi nuklir merupakan salah satu solusi terbaik untuk menghasilkan energi yang bersifat ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan karbon yang menyebabkan pemanasan global. "Lebih ramah lingkungan," katanya.  Dilihat dari pasokan sumber bahan bakarnya, cadangan Uranium di Indonesia berjumlah 24,112 ton. Penyediaan bahan bakar nuklir tersebut bersifat quasi domestic (dapat tersedia dalam volume relatif kecil untuk penyediaan energi berskala besar dan jangka waktu relatif panjang). "Kita bisa bikin 1 unit PLTN 1000 megawatt itu kecil, bahkan ada yang diatas 1000 megawatt," tutup Raden Heru Umbara, Kepala Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN.

__._,_.___
Recent Activity:
--------------------------------------------------------------
Portal Industri : http://www.migas-indonesia.com
No E-mail (Web) : Migas_Indonesia-nomail@yahoogroups.com
Daily Digest    : Migas_Indonesia-digest@yahoogroups.com
Individual Mail : Migas_Indonesia-normal@yahoogroups.com
Administrator   : Migas_Indonesia-owner@yahoogroups.com
Mirror : http://groups.google.com/group/Migas-Indonesia-Google
Untuk pergantian alamat email dan pengiriman attachment
silahkan hubungi webmaster(at)migas-indonesia.com
HAPUS BAGIAN EMAIL YANG TIDAK DIPERLUKAN SEWAKTU REPLY
PENGIRIMAN ATTACHMENT KE MILIS HARUS MELEWATI ADMINISTRATOR
--------------------------------------------------------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment

LinkWithin2

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
Jika anda merasa info ini berguna dan ingin mentraktir saya beli minuman, silahkan anda bisa mendonasikan sedikit rezeki anda dengan mengklik link dibawah ini:


Bisnis Tiket Pesawat Online

Disclaimer